Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label Mistis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mistis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2013

Cerita Misteri, Kisah Mahluk Halus Penguasa Kali Aesesa

Cerita Misteri, Kisah Mahluk Halus Penguasa Kali Aesesa - Kematian Yosep Adhang alias Yoris yang hanyut terbawa banjir, Kamis (10/1/2013) lalu, meninggalkan cerita mistis. Kematian Yoris diduga tidak sekadar terhanyut banjir, melainkan ada kekuatan lain, yakni Novi, perempuan cantik penguasa Kali Aesesa. Mitos yang beredar, Novi, perempuan cantik dari dunia lain, setiap tahun selalu meminta korban. Kemarahan Novi biasanya ditandai hujan lebat dan angin kencang, yang berlangsung berhari-hari dan berhenti ketika sudah ada korban.






Cerita Misteri, Kisah Mahluk Halus Penguasa Kali Aesesa

POS KUPANG/ADIANA AHMAD


Kali Aesesa di Mbay yang memakan korban bernama Yoseph Adhang alias Yoris, saat hujan lebat dan angin kencang pada Kamis (10/1/2013) lalu.








Kondisi jenazah Yoris juga menguatkan keyakinan warga di Mbay, bahwa Yoris tidak seperti korban tenggelam pada umumnya. Perut Yoris tidak kembung. Peran Novi pada kematian Yoris dan juga dalam upaya penemuan jasadnya, menjadi perbincangan hangat tim gabungan dan para pelayat. Menurut salah satu sesepuh di Kampung Nila, RT 05/RW 01 Kelurahan Mbay, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, setiap tahun selalu ada korban tenggelam di Kali Aesesa. Sebelum jatuh korban, biasanya ditandai hujan dan angin kencang selama berhari-hari.



Masyarakat setempat meyakini, jika terjadi cuaca ekstrem, berarti Novi sedang marah dan minta korban. Yakin adanya kekuatan lain dalam peristiwa tenggelamnya Yoris, keluarganya pada Jumat (11/1/2013) menggelar ritual di rumah duka, dan di lokasi Yoris tenggelam, setelah sehari sebelumnya upaya pencarian Yoris tidak membuahkan hasil. Dengan seekor ayam jantan merah dan telur ayam kampung, jasad Yoris akhirnya ditemukan. Selain ritual adat oleh pihak keluarga, siang itu seorang anggota TNI bernama Bambang Sutrisno yang mampu berkomunikasi dengan kaumnya Novi, akhirnya mampu menghadirkan Novi di tengah upaya pencarian korban.



Melalui perantaraan seorang ibu yang konon 'berteman' baik dengan Novi, Bambang berkomunikasi dengan Novi. Sang ibu yang menjadi perantara, menurut cerita, berkenalan dengan Novi saat berekreasi di Bendungan Sutami, beberapa waktu lalu. Kala itu, secara tidak sengaja Novi masuk ke tubuh perempuan paruh baya, dan mengatakan ingin berkenalan dan berteman dengannya. Sejak itu, keduanya pun berteman.



Menurut perempuan yang namanya dirahasiakan, Novi akan datang padanya dan menyampaikan berbagai hal yang membuatnya marah atau kecewa. Pada Jumat siang. Novi datang dengan perantara tubuhnya, Novi berkomunikasi dengan Bambang. Saat itu, Bambang meminta agar Novi memberitahu di mana keberadaan Yoris, dan mengapa ia membunuh Yoris. A



walnya, kata Bambang, Novi sempat menolak. Namun, setelah melalui pembicaraan panjang, Novi akhirnya bersedia melepas korban. Dalam dialog itu, tutur Bambang, Novi mengaku marah karena selama ini terabaikan. Padahal, ia sudah berkorban untuk banyak orang. Banyak orang di daerah itu menduga, Novi merupakan korban yang dijadikan tumbal saat pembuatan Bendungan Sutami.



Cerita yang berkembang di masyarakat Mbay, dalam konstruksi Bendungan Sutami, ada sekitar tiga sampai empat orang yang dijadikan tumbal, dengan alasan agar bendungan tersebut kuat. Demikian juga di jembatan Mbay-Riung, yang melintang di Kali Aesesa.



Warga setempat percaya, roh para korban yang tewas terpaksa, diduga bergentayangan di sepanjang Kali Aesesa dan Irigasi Mbay Kanan. Roh-roh itu, menurut kepercayaan warga, selalu meminta korban setiap tahun.



"Dalam dialog saya dengan dia, dia mengaku marah karena selama ini diabaikan. Ia mengatakan, masyarakat di Mbay baru memperhatikannya ketika sudah ada korban. Kalau tidak ada korban, ia diabaikan. Dia juga sempat menolak melepas korban, dengan alasan ingin bermain lebih lama dengan korban," tutur Bambang. "Tapi saya bilang, kalau begitu kamu menyusahkan saya dan banyak orang. Akhirnya dia menyuruh saya pulang, karena tidak lama lagi korban sudah bisa ditemukan. Ternyata benar. Ketika kami baru sampai di halaman rumah duka, sudah ada informasi bahwa teman-teman Tagana sudah menemukan jasad korban," imbuh Bambang.



Selain Yoris, lanjut Bambang, korban-korban sebelumnya juga meninggal karena ulah Novi.



"Itu diceritakan sendiri oleh Novi. Kalau Yoris, Novi marah karena Yoris menabrak dia. Padahal, dia sudah bantu menyeberangkan dua ekor kambing. Tapi, korban masih mau ambil kambing ketiga," jelas Bambang.



"Ketika korban lompat ke sungai untuk ambil kambing ketiga, tubuh Yoris menabrak dia (Novi). Dia marah dan mencekik dan menenggelamkan Yoris," papar Bambang.



Cerita Bambang juga sama dengan paranormal sebelumnya, yang mengatakan sejak siang ketika Yoris tenggelam hingga malam, Yoris sebenarnya tidak hanyut atau berpindah tempat, tapi ada di dasar sungai tempat Yoris tenggelam. Pada Kamis malam atau malam Jumat, Yoris baru dibawa Novi ke Kela, tempat jasad Yoris ditemukan. Mungkin hanya faktor kebetulan atau memang cerita itu benar adanya, setelah Yoris tenggelam, banjir di Kali Aesesa langsung surut, hujan dan angin kencang berhenti. Baru pada Jumat sore turun gerimis.



Cerita kini menjadi buah bibir masyarakat Mbay. Masyarakat di Mbay percaya, Novi merupakan roh seorang gadis remaja berusia 15 tahun, yang dicor hidup-hidup ketika pembangunan konstruksi Bendungan Sutami, beberapa puluh tahun silam. Ada juga yang meyakini Novi merupakan 'penguasa' dan penjaga Kali Aesesa. Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, peristiwa tenggelamnya beberapa korban di Kali Aesesa setiap tahun harus dijadikan pelajaran, agar semua orang di daerah itu mawas diri dan tidak bertindak gegabah, ketika Kali Aesesa sedang mengamuk.



Novi mungkin hanya sekadar simbol dari kemarahan alam, karena kita tidak tahu berterima kasih. (*)






http://www.tribunnews.com

Minggu, 23 Desember 2012

Cerita Ritual Seks Cari Kekayaan di Gunung Kemukus


Cerita Ritual Seks Cari Kekayaan di Gunung Kemukus - Untuk mencari kekayaan terkadang jalan apa saja ditempuh, seperti yang dilansir merdeka.com; Sudah menjadi cerita umum, ada ritual mencari pesugihan semacam babi ngepet dan lainya dilakukan orang di Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah. Untuk mendapatkan pesugihan itu, konon harus ritual seks (berhubungan seks) dengan pasangan tidak sah.






ritual seks





Ritual Seks ini banyak dilakukan oleh orang-orang yang mencari jalan pintas untuk menjadi kaya. Di gunung ini, ratusan warga dari berbagai wilayah di Jawa terutama datang berduyun-duyun ke Gunung Kemukus ini. Mereka bertujuan untuk mencari pasangan melakukan ritual pesugihan itu. Bagaimana sebenarnya ritual ini bisa menjadi semacam tata cara dan menjadi semacam tradisi yang sesat?



Tempat ritual ini berada di Gunung Kemukus tepatnya terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, 30 km sebelah utara Kota Solo. Untuk mencapai daerah ini tidak terlalu sulit, dari Solo bisa naik bus jurusan Purwodadi dan turun di Belawan, dari situ di sebelah kiri jalan akan ditemukan pintu gerbang yang bertuliskan "Daerah Wisata Gunung Kemukus", dari gerbang tersebut kita bisa naik ojek atau berjalan kaki menuju tempat penyeberangan dengan perahu.



Gunung Kemukus identik sebagai kawasan wisata seks karena di tempat ini orang bisa sesuka hati mengkonsumsi seks bebas dengan alasan untuk menjalani laku ritual ziarahnya, itulah syarat kalau mereka ingin kaya dan berhasil.



Dalam suatu aturan yang tidak resmi diwajibkan bahwa setiap peziarah harus berziarah ke makam Pangeran Samudro sebanyak 7 kali yang biasanya dilakukan pada malam Jumat Pon dan Jumat Kliwon atau pada hari-hari dan bulan yang diyakhini baik, melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang bukan suami atau istrinya . Tapi jika ingin membawa pasangan sendiri pun tidak jadi masalah.



Acara ritual seks di Gunung Kemukus ini ada yang menganggap hanya sebuah legenda rakyat daerah. Zaman dulu dikisahkan tentang seorang Pangeran dari Kerajaan Majapahit yang bernama Pangeran Samudro bangsawan ini berasal dari kerajaan Majapahit tapi ada juga yang menyebutnya berasal dari zaman Kerajaan Pajang.



Menurut cerita, Pangeran Samudro ini jatuh cinta kepada ibunya sendiri yaitu Dewi Ontrowulan. Ayahanda Pangeran Samudro yang mengetahui hubungan anak-ibu tersebut menjadi murka dan kemudian mengusir Pangeran Samudro.



Setelah diusir oleh ayahnya inilah Pangeran Samudro melakukan perjalanan hingga akhirnya sampai ke Gunung Kemukus, tak lama kemudian sang ibunda menyusul anaknya ke Gunung Kemukus untuk melepaskan kerinduan.



Singkat cerita, ibu dan anak yang tengah dilanda asmara ini melepas kerinduan setelah sekian lama tidak bertemu. Namun, sebelum sempat ibu dan anak ini melalukan hubungan intim, penduduk sekitar memergoki mereka berdua yang kemudian merajamnya secara beramai-ramai hingga keduanya meninggal dunia.



Keduanya kemudian dikubur dalam satu liang lahat di gunung itu juga. Menurut cerita lainnya, sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir Pangeran Samudro sempat meninggalkan sebuah pesan yaitu kepada siapa saja yang dapat melanjutkan hubungan suami-istrinya yang tidak sempat terlaksana itu akan terkabul semua permintaannya.



"Baiklah aku menyerah, tapi dengarlah sumpahku. Siapa yang mau meniru perbuatanku , itulah yang menebus dosaku dan aku akan membantunya dalam bentuk apapun". Begitulah isi sumpah yang dilontarkan Pangeran Samudro sebelum akhirnya wafat.



Dari cerita legenda tentang Pangeran Samudro ini lah ritual di Gunung Kemukus seolah menjadi ajang pesta seks untuk meminta kekayaan. Jika berhasil, kedua pasangan yang bukan sah sebagai suami istri ini harus bertemu kembali untuk melakukan selamatan dan syukuran di Gunung Kemukus itu kembali.



Jika ingkar, maka kedua pasangan yang telah berjanji di makam Pangeran Samudro ini, akan jatuh miskin kembali. Bahkan, menurut mitos dan kepercayaan warga mereka atau titisan kedua pasangan yang melakukan ritual seks berdua itu akan mengalami celaka. 




Sumber:www.merdeka.com

Sabtu, 17 November 2012

Kisah Misteri Kitab Sihir Kuno Calonarang


Kisah Misteri Kitab Sihir Kuno Calonarang - Dalam banyak sejarah dan banyak riwayat, Ilmu sihir memang akan lebih ampuh jika dilakukan oleh seorang wanita. Dalam level ilmusihir yang setingkat, penyihir wanita (Witch) akan lebih unggul dibandingkan penyihir pria (Wizard). Tapi ada pula yang berpendapat bahwa jaman dahulu banyak terjadi perendahan martabat wanita, sehingga banyak wanita yang "dituduh" sebagai tukang sihir jahat.




Cerita Misteri Kitab Sihir Kuno Calonarang





Besar kemungkinan karena pada masa itu sihir yang paling dikenal adalah sihir dewi Isis yang menggunakan simpul tali (simpul dewi Isis) sebagai medium sihir. Sihir ini berasal dari mesir, dan menyebar ke timur tengah. Uniknya sahabat anehdidunia.com, hampir semua penyihir yang melestarikan dan menggunakan simpul Isis sebagai medium sihir, berjenis kelamin wanita.




Kisah Misteri Kitab Sihir Kuno Calonarang



Lepas dari itu, yang pasti bahwa ilmu sihir ini berasal dari jaman Babilonia kuno, yang diajarkan oleh dua orang Malaikat Harut dan Marut sebagai cobaan bagi manusia. Kemudian setelah itu SETAN lah yang mengajarkan ilmu sihir itu kepada manusia pada masa kerajaan Sulaiman. Oleh karena itu siapapun yang mempelajari ilmu sihir, berarti dia telah berada dalam kesesatan yang jauh atau kafir. (termasuk harry potter)



Di Indonesia juga ada sebuah legenda yang berawal dari sebuah sejarah tentang seorang penyihir wanita yang dikenal jahat di masa kerajaan Kediri, yang dikenal dengan nama CALONARANG.





Kisah Calonarang awalnya ditulis di naskah daun lontar (tidak diketahui siapa penulisnya) dengan aksara Bali Kuna. Jumlahnya empat naskah, asing-masing bernomor Godex Oriental 4561, 4562, 5279 dan 5387 (lihat Catalogus Juynboll II. P. 300-301; Soewito Santoso 1975; 11-12).



Meskipun aksaranya Bali Kuna, tetapi bahasanya Kawi atau Jawa Kuna. Naskah yang termuda no. 4561, Beberapa bagian dari naskah 4562-5279 dan 5287 tidak lengkap sehingga dengan tiga naskah ini dapat saling melengkapi. Sebenarnya naskah no. 5279 dan 5287 merupakan satu naskah; naskah no. 5279 berisi ceritera bagian depan, sedangkan no. 5387 berisi ceritera bagian belakang. Naskah tertua no. 5279 berangka tahun 1462 Saka (1540 M). Semua naskah tersebut disimpan di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal – Land – en Volkenkunde van Ned. Indies di Leiden, Belanda.



Naskah Calon Arang pernah diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. Poerbatjaraka (lihat “De Calon Arang” dalam BKI 82. 1926: 110-180) dan pada 1975 diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Dr. Soewito santoso (lihat “Calon Arang Si Janda Dari Girah”, Balai Pustaka 1975). Uraian di bawah ini disarikan dari tulisan Dr. Soewito Santoso tersebut.



Ringkasan kisah dalam naskah tersebut terdiri atas dua bagian:



1.Tentang Calon Arang,

2.Tentang pembagian wilayah kerajaan Airlangga kepada dua puteranya.

Dan yang akan kita bahas adalah yang pertama yaitu kisah CalonArang



Latar Belakang Sejarah

Raja Airlangga (1006-1042 M) memerintah di Jawa Timur sejak 1021 M sesuai dengan isi prasati Pucangan (Calcutta). Pusat kerajaan Airlangga berpindah-pindah karena diserang oleh musuh. Prasasti Terep (1032 M) menyebutkan raja Airlangga lari dari istananya di Watan Mas ke Patakan karena serangan musuh. Prasasti tidak menyebutkan bahwa keraton Airlangga ada di Daha, tetapi naskah Calon Arang ini menyebutkan keraton Airlangga ada di Daha (Kediri).



Pada masa itulah hidup seorang janda yang sangat sakti bernama Dayu Datu dari Desa Girah yaitu Desa pesisir termasuk wilayah Kerajaan Kediri, yang ahli ilmu sihir dan mendirikan sebuah padepokan sihir. Dayu Datu inilah yang kita kenal sebagai Calonarang.

Calon Arang menuliskan semua ilmu sihirnya kedalam sebuah "Kitab", dan kitab sihir inilah yang dalam kisah "dicuri" atau diamankan oleh Mpu Bharadah, yang akhirnya berhasil mengalahkan Calon Arang.




Kisah Misteri Kitab Sihir Kuno Calonarang



Tidak jelas keberadaan kitab sihir tersebut saat ini, tetapi beberapa orang murid Calon Arang (yang telah mempelajari sebagian ilmu sihir calon arang), melarikan diri ke pulau Bali. Di Bali mereka mengajarkan dan melestarikan sebagian ilmu yang mereka pelajari dari calon arang, dan ilmu itu sekarang kita kenal dengan nama Leak. Oleh karena itulah kisah calon arang ini sangat dekat dengan adat masarakat hindu Bali sehingga calon arang di klaim sebagai orang Bali. Perlu diketahui juga bahwa pada masa itu Bali juga berada dalam kekuasaan Airlangga, dan diperintah oleh adik dari Airlangga sendiri yang bernama Anak Wungsu.



Yang menarik adalah pada masa itu, agama yang populer adalah agama Budha aliran Tantrayana. Tantrayana mengajarkan cara pintas menuju Moksa. Upacara yang dilakukan antara lain menari-nari di atas kuburan dengan iringan musik (instrumen kangsi dan kemanak) sambil minum darah dan makan daging mayat yang dilakukan pada malam hari bertelanjang badan. Ajaran ini kemudian juga dianut oleh raja Kertanegara (1268-1292 M) dari Singasari. Dengan cara demikian terjadilah pertemuan jiwa antara pelaku upacara dengan dewanya (lihat juga naskah Tantu Panggelaran disertasi dari Th. Pigeud 1924). Meskipun Ajaran Tantra dimasudkan untuk kebaikan bukan kejahatan, tapi diyakini Calon Arang juga melakukan ritual yang serupa yang dia lakukan untuk menyembah/memohon pada Btari Durga, yang notabene adalah salah satu dewi agama hindu. Sinkritisme?



Lebih menarik lagi fakta yang diketahui bahwa Mpu Bharada beragama Budha, sedangkan muridnya, yaitu raja Airlangga beragama Hindu





Ilmu Leak adalah sebagian dari Ilmu Sihir Calonarang

Di Bali Ilmu leak dikenal masyarakat luas, ilmu ini memang teramat sadis karena dapat membunuh manusia dalam waktu yang relatif singkat. Ilmu Leak dapat juga menyebabkan manusia mati secara perlahan yang dapat menimbulkan penderitaan yang hebat dan berkepanjangan.



Dalam masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu dikenal dengan istilah “Rua Bineda” yaitu Rua berarti dua dan Bineda berarti berbeda yang artinya ada dua yang selalu berbeda, seperti adanya siang dan malam, ada suka dan duka, ada hidup dan mati. Demikian pula dengan ilmu ini ada ilmu yang beraliran kiri disebut Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan dan sebagai penangkalnya ada ilmu yang beraliran kanan atau Ilmu Putih?.

Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan, tergolong "Aji Wegig" yaitu aji berarti ilmu, wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka menggangu orang lain. Karena sifatnya negative, maka ilmu ini sering disebut "Ngiwa".



Ngiwa asal katanya kiwa (Bahasa Bali) artinya kiri.

Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.



Ilmu leak ini bisa dipelajari pada lontar – lontar yang memuat serangkaian Ilmu Hitam.

Lontar –lontar atau buku – buku jaman kuno yang terbuat dari daun pohon lontar yang dibuat sedemikian rupa dengan ukuran panjang 30 cm dan lebar 3 cm, diatas lontar diisi tulisan aksara Bali dengan bahasa yang sangat sakral.

Murid2 calonarang yang melarikan diri ke bali menuliskan Ilmu Pengleakan pada kitab lontar dan membuatnya dalam empat kitab yaitu :



1. Lontar Cambra Berag,

2. Lontar Sampian Emas,

3. Lontar Tanting Emas,

4. Lontar Jung Biru.



Ilmu leak ini ada tingkatan – tingkatannya yaitu :



1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa ngeleak tersebut bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, babi betina (bangkung) dan lain – lain.



2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.



3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.

Ilmu Pengleakan Bali sangat menakutkan, dan itu baru SEBAGIAN dari apa yang tertulis dalam kitab calonarang. Bayangkan kalau seluruh ilmu sihir yang ada dalam kitab calonarang ditemukan ....



Calonarang sering disebut Rangda Nateng Girah yaitu Rangda artinya Janda, Nateng artinya Raja (Penguasa). Girah adalah nama suatu desa. Jadi ‘’Rangda Nateng Girah’’ artinya Janda Penguasa desa Girah.



Calonarang adalah Ratu Sihir yang sangat sakti, pada jaman itu bisa membuat wilayah Kerajaan Kediri mengalami Gerubug/Pageblug/Epidemi atau wabah yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat, yaitu pada wilayah pesisir termasuk wilayah desa Girah.

Dibawah ini adalah kisah calonarang versi bali, sehingga calonarang disebut ibu, dan ilmu sihirnya disebut leak. Kisah ini pernah juga di filmkan dan diperankan oleh sang artis ratu horor, Suzzana ...





Kisah Calon Arang

Di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga yaitu didesa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Hitam atau Ilmu Sihir yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Ibu Calonarang (nama julukan dari Dayu Datu).



Murid – muridnya semua perempuan dan diantaranya ada empat murid yang ilmunya sudah tergolong tingkat senior antara lain : Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Sedaksa.





Sumber: anehdidunia.com


Selasa, 09 Oktober 2012

Penemuan Bukti Ritual Yang Mengerikan Suku Aztec


Penemuan Bukti Ritual Yang Mengerikan Suku Aztec  - Penemuan 50 tengkorak dan lebih dari 250 tulang rahang di Templo Mayor, Meksiko, sebagai bukti suku Aztec memiliki ritual brutal yang mengerikan.






Penemuan Bukti Ritual Yang Mengerikan Suku Aztec
Kalender Suku Aztec di batuan.



Arkeolog menemukan 50 tengkorak dan lebih dari 250 tulang rahang di Templo Mayor yang terletak di Tenochtitlan (kota Meksiko modern). Penemuan ini sebagai bukti yang menguatkan dugaan bahwa suku Aztec memiliki ritual brutal yang mengerikan.



Tengkorak-tengkorak ini ditemukan di bawah platform yang disebut cuauhxicalco, biasa digunakan untuk acara pengurbanan. Usia tengkorak ini diperkirakan lebih dari 500 tahun dan merupakan jumlah tumbal terbanyak yang pernah ditemukan.



Suku Aztec menggunakannya untuk melakukan ritual persembahan kepada Mictlantecuhtli, dewa kematian. Sebanyak 50 tengkorak digali di beberapa tempat yang berbeda. Ada 45 tengkorak ditemukan tergeletak di atas batu, sedangkan lima lainnya terkubur di bawah batu.



Masing-masing dari lima tengkorak yang terkubur memiliki karakteristik bentuk yang sama, yaitu terdapat lubang di kedua sisinya. Ini menunjukkan bahwa tengkorak tersebut pernah digantung dan dijajarkan di tzompantli. Tzompantli adalah rak tengkorak sejenis rak kayu yang digunakan untuk menampilkan tengkorak manusia ke muka umum di dekat kuil.



Raul Barrera, seorang arkeolog dari Mexico National Institute of Anthropology and History, menyatakan, tengkorak-tengkorak ini milik pria dan wanita dengan usia antara 20 hingga 35 tahun. Beberapa mungkin pernah digali dari situs lain dan kemudian dikuburkan kembali di sana.



Batu untuk pengurbanan ini tampak seperti nisan abu-abu, yang memiliki tinggi sekitar 45 sentimeter, panjang 36-43 sentimeter, dan tebal sekitar 7 sentimeter. Penemuan ini mengindikasikan cara baru suku Aztec menggunakan tengkorak sebagai bagian dari ritual mereka. Sebab, selama ini suku Aztec diketahui memiliki ritual pengurbanan manusia dengan cara mengambil jantung kurban.



"Biasanya orang yang tewas pada batu ini dengan cara dibuka dadanya dan jantungnya ditarik keluar," kata Barrera. (Umi Rasmi)











Sumber :

National Geographic Indonesia


Sabtu, 01 September 2012

Kisah Mistis Mesi Si Pawang Ikan Pari

Kisah Mistis Mesi Si Pawang Ikan Pari  - AROMA mistis sudah terasa ketika Tribun Sumsel (Tribun Network) mengetik berita ini di Sekayu. KwH Meter listrik di rumah mendadak turun beberapa kali. Padahal sebelumnya tak pernah terjadi. Listrik milik tetangga juga tak ada masalah. Di tengah kegelapan dikejutkan pula oleh suara tumpukan buku di ruang tamu yang jatuh disertai lolongan anjing.





Desa Sugihwaras heboh ketika seorang nelayan, Nansir (38), secara tidak sengaja menjaring ikan pari seberat 120 kg di perairan Sungai Musi pada 24 Agustus lalu. Ikan berukuran besar itu dilepas atas permintaan Mesiyanti (16), paranormal cilik asal Desa Muara Punjung, Kecamatan Babattoman.



Gadis bernama Mesiyanti (16) ini terlihat seperti gadis seumurannya. Ia pelajar kelas dua di SMA Negeri 2 Kecamatan Babattoman, Kabupaten Musi Banyuasin. Usia Mesi masih muda, tetapi kekuatan mistisnya diakui penduduk seluruh desa, bahkan sampai desa tetangga. Kehadirannya sangat disegani.



Saat sebagian warga desa sudah membolehkan ikan pari dibawa pulang oleh Dr Husnah, Doktor Bidang Lingkungan Perairan Balai Riset Perikanan Perairan Umum Kabupaten Banyuasin, tiba-tiba Mesi muncul. Dengan gayanya yang cool, dia mencegah ikan itu dibawa untuk diteliti dan minta segera dilepas.



Siapakah Mesi, sehingga perkataannya dituruti orang? Tribun menyambangi kediaman remaja yang namanya mirip pemain sepakbola terkenal Lionel Messi itu di Desa Muara Punjung, Kecamatan Babattoman, Selasa (28/8/2012) lalu.



Tribun tiba di rumah panggung berlantai dua pukul 13.00 WIB, Mesi belum pulang sekolah. Di rumah ada beberapa kerabat, kakeknya, Taifur (64), dan juga Nansir. Mereka antusias menceritakan sosok Mesi dan memujinya. Sekitar setengah jam kemudian, Mesi pulang dan langsung berganti baju dengan kaos putih.



Perbincangan pun dimulai. Tribun berinisiatif menanyakan biodata remaja itu. Tiba-tiba Taifur menyela. Dia mengatakan, sosok yang dibincangi Tribun bukanlah Mesi, melainkan Nisa, anak penunggu Sungai Musi. Menurutnya, Nisa ini merupakan anak angkat pasangan dari "buaya kuning" bernama Abdul dan Aminah.



Sejenak perbincangan terhenti. Nisa (menggunakan tubuh Mesi) kemudian mengakui dia 'mati penasaran' pada usia 18 tahun karena tenggelam di Sungai Musi sebelum zaman penjajahan Belanda. Ia dibawa orangtua angkatnya ke Desa Muara Punjung dari Palembang.



"Saya ikutin Mesiyanti ini sudah lama, sejak ia berusia enam tahun. Tapi, baru bisa saya masuki badannya pada tahun ini, sebelum puasa," kata Nisa menggunakan dialek Palembang.



Dia memilih Mesi dengan pertimbangan remaja itu pendiam, baik, dan jarang keluar rumah. Selain itu, secara fisik, wajah dan tubuh Mesiyanti, menurut Nisa, sangat mirip dan boleh dibilang kembar dengan dirinya.



Nisa menceritakan, awalnya Mesiyanti sempat sakit saat ia masuki. Namun menurutnya, hanya sementara dan sejak saat itu Mesiyanti bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit menggunakan air putih dan dan jeruk nipis.



Taifur ikut nimbrung. Dia menuturkan, sejak cucunya dirasuki Nisa, beberapa masyarakat ada yang berdatangan untuk melakukan pengobatan, baik sakit secara fisik maupun secara mistik. Tamu yang datang pun juga banyak berasal dari luar kota.



"Cucu saya ini baru bisa mengobati pada saat puasa tahun ini, sekitar dua bulanan," jelasnya.



Selang tak berapa lama, Nisa merasa kelaparan dan makan yang sudah dimasak dengan lahap dan malah tambah. Menurut Taifur, Nisa lebih banyak makan dibandingkan Mesi. Mendengar perkataan kakeknya, tersebut, Nisa malah tertawa dan bilang lebih baik ia banyak makan nasi.



"Kalau lapar saat di dalam sungai, saya lebih enak makan ikan mentah. Kalau buaya lain, malah makan orang, biasanya makan jantung dan hati orang yang ditarik tenggelam," ujar dia.



Usai makan siang sebanyak dua piring, Nisa lalu duduk menyudut di dekat lemari. Tribun diberitahu Nisa telah meninggalkan tubuh Mesi. Berbalik 180 derajat dengan Nisa, Mesi ternyata orang yang pendiam dan pemalu. Sehingga, beberapa kali Tribun dan pihak keluarga harus membujuk Mesi untuk diwawancarai.



Hanya sedikit kata yang dikeluarkan dari mulutnya saat ditanyakan mengenai keberadaannya di dasar Sungai Musi saat tubuhnya ditempati Nisa. Logat yang dikeluarkannya pun juga berbeda, yakni bahasa asli wilayah Muba, bukan lagi bahasa Palembang yang digunakan saat Tribun wawancara pertama kali.



"Nisa-nya tadi dipanggil orangtuanya, jadi saya yang naik ke atas. Tadi di istana, cuma tidur-tiduran saja," ceritanya pada Tribun.



Ia menceritakan dengan gamblang, bahwa ada istana dibawah sungai, tempat Nisa dan orangtuanya tinggal. Istana ini terdiri dari dua tiga lantai. Setiap lantai dijaga empat pengawal yang berpakaian kerajaan warna putih.



"Kalau di lantai atas itu, tempat harta disimpan, ada emas. Umak Nisa kan buaya, telur umaknya itu emas semua, dak tahu ngape dak netas, mungkin mandul. (Ibu Nisa kan buaya, telur ibunya itu emas semua, nggak tahu mengapa tidak netas, mungkin mandul)," jelas Mesiyanti.



Sedangkan di lantai dua, merupakan tempat pakaian kerajaan. Sedangkan di lantai bawah, merupakan tempat tidur dengan banyak kamar. Ia menjelaskan, kalau salah masuk kamar, maka jiwanya akan hilang dan ia tidak bisa lagi kembali ke raganya.



"Dak tahu, caknye itu dalam kamar tuh peliharaan bapaknye gale, ade harimau dan lain-lain (Tidak tahu, sepertinya itu dalam kamar peliharaan bapaknya semua, ada harimau dan lain-lain)," ujarnya.



Mesiyanti menjelaskan, ia memiliki seorang dayang yang menemaninya terus selama dalam istana. Di istana ini menurutnya, berdinding beton yang memiliki taman luas.



Untuk mendapatkan detail istana ini, Tribun minta pada Mesi untuk bertukar tempat lagi dengan Nisa. Ternyata Mesi mengatakan, Nisa ada di belakangnya. Lalu, Mesi menjauh dari Tribun, duduk di atas ranjang tidur dan tak berapa lama Nisa kembali masuk ke tubuh Mesi. (iswahyudi)











Sumber